Monday, 12 December 2016

PANDANGAN BUDIDAYA JAMUR TIRAM

Dari sekian banyak jamur konsumsi, jamur tiram patut untuk diperhitungkan sebagai komoditas andalan pada sector agrobisnis.
Ditengah kelesuan ekonomi, budidaya jamur tiram menjadi alternative untuk dikembangkan, mengingat nilai ekonomis jamur tiram relative tinggi. Dari segi harga jual, termasuk peringkat atas jika dibandingkan jenis sayuran lain, disamping manfaatnya yang multi guna, tidak saja digunakan sebagai sayuran melainkan berkhasiat sebagai obat dari berbagai penyakit, serta dapat diperuntukan sebagai makanan olahan lainya.


Kelebihan budi daya jamur tiram adalah tidak mengenal musim, bias menghasilkan keuntungan setiap saat, mudah cara budidayanya dan tidak begitu besar investasi yang dibutuhkan, disamping minimnya tingkat resiko kegagalan. Jamur tiram dapat dibudidayakan sebagai usaha sampingan maubpun dapat dikelola sebagai mata pencaharian penuh.

Jamur tiram dalam Bahasa yunani disebut pleurotus, artinya “bentuk samping atau posisi menyamping antara tangkai dengan tudung”. Sedangkan sebutan nama “tiram” adalah karena bentuk tudung jamur menyerupai cangkang kerang . dibelahan amerika dan eropa, jamur ini lebih popular dengan sebutan  Oyster mushroom, mempunyai tangkai tudung tidak tepat ditengah seperti jamur lainya. Asal usul jamur tiram berasal dari negara belanda, kemudian menyebar ke Australia, amerika, dan asia tenggara termasuk di Indonesia.
Dari hasil penelitian dan riset badan kesehatan dunia (WHO), jamur tiram memenuhi standar gizi sebagai makanan yang layak untuk dikonsumsi, enak dimakan , tidak beracun, dan memiliki kandungn gizi yang tinggi serta berkhasiat sebagai obat berbagai macam penyakit.

Jamur tiram merupakan jenis jamur kayu yang awalnya tumbuh secara alami pada batang-batang pohon yang telah mengalami pelapukan, umumnya mudah dijumpai didaerah hutan hutan. Sementara itu di Indonesia sendiri budidaya jamur tiram baru mulai dirintis tahun 1988. Pada waktu itu petani atau pengusaha jamur tiram masih sedikit sekali. Namun sesuai dengan laju perkembangan jaman, sejak tiga tahun terahir ini jamur tiram mulai dilirik untuk dibudi dayakan secara besar besaran dengan metode yang lebih sophisticated, yakni tidak mengandalkan batang pohon yang dinilai tidak efisien melainkan memanfaatkan menggunakan hasil rekayasa teknologi modern dengan memanfaatkan bahan media tanam dari serbuk kayu (gergajian), jerami padi dan alang-alang. Jamur tiram juga dapat tumbuh pada media lain, seperti ampas tebu, kulit kacang, sabut kelapa, sisa kertas, dan lain lain. 
Namun sejauh ini para pengusaha dan petani jamur lebih suka menggunakan media tanam dari serbuk kayu dan jerami, karena bahan tersebut mudah didapat dan relative murah.

No comments:

Post a Comment